Untuk mengalihkan pikirannya, Lynx membuka cincin penyimpanan di jarinya. Ia mulai memeriksa benda-benda yang tersimpan di dalamnya. Ada beberapa barang yang bukan miliknya, berupa artefak dan benda-benda yang tidak dikenalnya milik leluhur Monrest. Salah satu barang menarik perhatiannya, terlihat seperti potongan mesin yang aneh.

"Benda apa ini? Tidak terlihat seperti barang kultivasi. Ini lebih mirip seperti sebuah mesin." Mata Lynx menyipit, dan senyumnya muncul perlahan. "Apakah ini barang peninggalan Milo? Jika benar, maka ini adalah mesin teleportasi antar dimensi. Dengan ini, Lala bisa menggunakannya untuk pulang ke dunianya."

"Aku sendiri mampu membuat portal dimensi, tapi aku membutuhkan batu spiritual tingkat tinggi. Membuat portal dimensi, bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga formasi yang rumit. Di Pulau, aku menggunakan pecahan batu meteor sebagai pengganti batu spiritual tingkat tinggi. Disini nanti, aku memerlukam banyak batu spiritual."

Lynx memikirkan situasinya dengan hati-hati. "Jika aku membuat portal sembarangan tanpa mengetahui tujuannya, aku bisa terlempar ke dimensi lain secara acak. Aku mungkin tidak akan pernah menemukan jalan kembali."

Ia mengingat kembali bagaimana dia bisa tiba di dimensi ini. "Dimensi kultivasi ini bisa kudatangi karena ingatan leluhur Xiao Tang yang memberi tahu cara menemukannya. Tapi untuk menemukan dimensi tempat Lala dan keluargaku berada... itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Aku harus memeriksa semua kemungkinan."

Dengan pikiran yang penuh strategi, Lynx menutup matanya sekali lagi. Di tengah dinginnya malam, ia mulai merancang langkah-langkah yang harus diambil. "Aku butuh organisasi untuk membantuku mencari mereka. Dengan koin emas yang kumiliki, aku bisa menarik orang-orang biasa. Tapi untuk para kultivator... mereka tidak akan tertarik hanya dengan uang. Aku butuh lebih dari itu. Mungkin batu kristal spiritual, teknik kultivasi, atau barang-barang berharga lainnya."

Dia memikirkan bagaimana harus menjalankan rencananya dengan cermat. "Aku belum pernah menjalankan bisnis sebelumnya. Tapi dengan kemampuanku, aku yakin aku bisa. Selain itu, aku juga harus menyesuaikan diriku dengan dunia ini. Aku perlu belajar menyerap dan mengolah Qi spiritual seperti mereka agar tidak mencurigakan. Kalau tidak, keberadaanku di sini akan selalu menjadi pertanyaan."

Lynx mengarahkan kesadaran ke dalam tubuhnya. Energi besar yang tidak disegel dalam dirinya tersembunyi di akar spiritual dan dantiannya, berputar dengan stabil, seperti badai yang dikurung di dalam guci kecil. "Energi sakti ini terlalu berbeda dengan Qi spiritual yang mereka gunakan di dunia ini. Jika hanya menggunakan energi dari benda itu, aku hanya akan menjadi lebih mencolok," pikirnya.

Dengan hati-hati, Lynx mulai mempelajari segel yang dia tanamkan pada akar spiritualnya dan benda aneh yang ada ditubuhnya. Dia mencoba mencari cara agar dantiannya bisa beradaptasi dengan dunia ini,"Benda ini sepertinya benar-benar menyatu dengan tubuhku. Sungguh aneh, dia bukan hanya menyerap energi dari luar, tetapi juga bisa menghasilkan energi. Apa alasannya? Apakah energi yang diserap kurang? Atau energi yang dia hasilkan terasa kurang sehingga perlu menambahkan energi dari luar? dan kenapa tiada hentinya menyerap dan berproduksi seandainya tidak kusegel? Berkat segel ini, aku bisa mengeluarkan energinya sedikit demi sedikit agar tidak terlalu besar." Lynx merasa pusing memikirkan keanehan yang tidak masuk logikanya.

"Baiklah, sekarang aku harus bisa membuat dantianku berhenti disuplai oleh energi misterius ini dan menggantinya dengan Qi spiritual yang ada di sekitarnya, aku bisa menggunakannya untuk memanipulasi para kultivator agar mereka berpikir aku juga seorang kultivator." Lynx berusaha membagi kekuatannya, namun proses itu tidak mudah, setiap kali ia mencoba mengatur aliran energinya, kekuatan besar yang ada di dalam tubuhnya seolah menolak untuk ditaklukkan.

"Pelan-pelan," gumamnya pada diri sendiri, mengatur napas. Ia mulai membagi sistem kekuatan di tubuhnya menjadi dua. Energi sakti yang berasal dari benda itu tetap disegel di inti dantiannya dan hanya disalurkan ke akar spiritualnya, sementara aliran Qi spiritual mulai diarahkan untuk membentuk jalur tersendiri di dantian.

Senyum kecil terukir di wajahnya. "Kurasa aku tahu apa yang kurasakan sekarang. Seperti jagoan botak sekali pukul dalam cerita komik. Kalau aku menggunakan kekuatan penuh, semuanya akan selesai dalam satu serangan... tapi di dunia ini, aku harus hati-hati," bisiknya, sambil tertawa kecil. Tawa itu, meski singkat, membawa rasa lega.

Namun, Lynx tahu bahwa perjalanan ini baru dimulai. Dia menghembuskan napas panjang, membiarkan pikirannya fokus kembali. "Langkah pertama adalah memastikan aku bisa menyesuaikan diri di dunia ini. Langkah berikutnya... membangun sesuatu yang bisa membantuku menemukan mereka semua. Aku tidak akan menyerah. Mereka menungguku, dan aku akan menemukan mereka, bagaimanapun caranya."

Keesokan paginya, saat sinar matahari menyinari tempat itu, Lynx membuka matanya dan melihat Jelita masih tertidur lelap. Tanpa ragu, Lynx membangunkannya dengan lembut.

Ia memperhatikan wajah Jelita yang masih memucat, dengan bekas air mata di pelupuk matanya. Lynx berpura-pura tidak melihatnya, berusaha untuk menjaga suasana tetap ceria.

“Pagi, Xiao Lin! Aku bangun kesiangan,” seru Jelita, menggosok-gosok matanya.

“Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh semalam. Makanlah dulu, setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan,” kata Lynx sambil mengeluarkan makanan yang ia beli di pasar saat mereka berpamitan. Jelita, yang sudah mengetahui hal itu, segera mendekat dan mulai menikmati makanannya.

“Xiao Lin, apakah tujuan kita masih jauh?” tanya Jelita, sambil mengunyah dengan penuh rasa ingin tahu.

“Sekitar beberapa hari lagi kita akan sampai di kota kecil,” jawab Lynx dengan tenang.

“Kota kecil?” Jelita berusaha mengingat informasi yang pernah didengarnya tentang kota, yaitu tempat di mana orang berkumpul dan makanan enak berlimpah. “Bagaimana kamu mengetahui tempat itu?”

“Itu salah satu kelebihanku yang lain,” Lynx menjawab sambil tertawa.

“Yun Qing, aku berpikir untuk mengubah namaku menjadi Xiao Ling, seperti nama yang kau berikan di awal. Bagaimana menurutmu?” tanya Lynx, menatap Jelita dengan serius.

“Apakah nama Xiao Lin tidak sesuai?” tanya Jelita, rasa penasaran melintas di wajahnya.

“Aku hanya merasa nama itu lebih mendekati dengan nama asliku, Lynx,” jawabnya, menekankan perasaannya.

“Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Xiao Ling,” kata Jelita dengan senyum hangat, seolah merestui keputusan Lynx.

“Dengan begitu, aku juga bisa mencoba melupakan masa laluku bersama Xiao Lin,” batin Jelita, merasakan kedamaian baru.

Setelah selesai makan dan bersiap-siap, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Namun sebelum itu, Lynx mengembalikan rumah yang dibuatnya ke dalam tanah, menyembunyikan jejak mereka.

Dalam perjalanan mereka melintasi hutan dan perbukitan, Lynx sesekali melirik ke arah Jelita yang berjalan di sampingnya. Dia tahu bahwa di dunia ini, seseorang yang tidak memiliki kekuatan akan selalu berada dalam bahaya.

"Jelita," panggil Lynx tiba-tiba, menghentikan langkahnya.

Jelita menoleh dengan bingung. "Ada apa, Xiao Ling?"

Lynx tersenyum tipis lalu duduk di atas batu besar. "Aku ingin mengajarkanmu cara berkultivasi."

Jelita terkejut, matanya melebar. "Berkultivasi? Aku bisa?"

"Kenapa tidak?" Lynx menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, menyuruhnya duduk. "Sebelumnya, di pulau tempat kita tinggal, tidak ada energi spiritual, jadi tidak mungkin untuk berkultivasi. Tapi di sini, energi spiritual ada di mana-mana. Aku akan mengajarimu teknik yang cocok untukmu."

Jelita masih ragu. "Tapi... aku tidak pernah belajar hal seperti itu. Aku hanya manusia biasa."

"Itu tidak masalah," Lynx menatapnya dengan yakin. "Selama kau memiliki tubuh dan kemauan, kau bisa berkultivasi. "

Lynx menambahkan penjelasannya. "Pada dasarnya, setiap orang memiliki yang namanya dantian, yang terletak di bawah pusar. Dimana energi spiritual atau disebut Qi bisa diserap dan disimpan. Yang membedakan dantian setiap orang adalah kemampuan untuk menyerap dan mengendalikannya. Ada yang mampu menyerap dengan besar dan ada yang kecil sehingga menyebabkan cepat lambatnya meningkat suatu kultivasi. Dan setiap gantian memiliki kemampuan penyimpanan Qi yang berbeda-beda."

Dengan hati-hati, Lynx mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam cincin penyimpanannya. Ini adalah salah satu teknik pernapasan yang pernah ditemukannya saat pertama kali memeriksa cincin itu, dan menurutnya, teknik ini sangat cocok untuk Jelita.

